Bubur India Pekojan, Jejak Tradisi Ramadan yang Terjaga Puluhan Tahun Setiap bulan Ramadan, kawasan Pekojan di Jakarta Barat kembali hidup dengan aroma rempah yang khas. Di antara gang gang sempit dan bangunan tua bersejarah, Bubur India Pekojan menjadi sajian yang selalu dinantikan warga. Tradisi membagikan bubur ini telah berlangsung sejak zaman dahulu, diwariskan dari generasi ke generasi dalam komunitas keturunan India yang bermukim di wilayah tersebut.
Bubur India bukan sekadar hidangan berbuka puasa. Ia merepresentasikan sejarah panjang interaksi budaya antara masyarakat India dan Betawi di Batavia lama. Dalam setiap sendoknya tersimpan kisah migrasi, perdagangan, dan akulturasi yang berlangsung selama ratusan tahun.
Asal Usul Bubur India di Pekojan
Pekojan dikenal sebagai kawasan yang sejak era kolonial menjadi tempat tinggal komunitas pedagang dari India dan Gujarat. Mereka datang membawa tradisi, bahasa, dan kuliner yang kemudian berbaur dengan budaya setempat.
Dari lingkungan inilah Bubur India tumbuh sebagai bagian dari tradisi Ramadan yang khas.
Warisan Komunitas Keturunan India
Komunitas India Muslim yang menetap di Pekojan mempertahankan kebiasaan memasak bubur berbumbu rempah saat bulan puasa. Hidangan ini awalnya disiapkan untuk dibagikan kepada warga sekitar masjid.
Peran Masjid dan Lembaga Sosial
Masjid menjadi pusat kegiatan sosial selama Ramadan. Di halaman masjid, bubur dimasak dalam panci besar untuk kemudian dibagikan menjelang waktu berbuka.
Ciri Khas Bubur India Pekojan
Berbeda dari bubur ayam pada umumnya, Bubur India memiliki warna kekuningan dengan aroma rempah yang kuat. Teksturnya lembut dan kental, dipadukan dengan potongan daging serta taburan bawang goreng.
Rempah seperti kayu manis, kapulaga, dan cengkeh menjadi penanda utama keunikan rasanya.
Penggunaan Samin
Salah satu bahan penting dalam bubur ini adalah samin atau minyak sapi. Samin memberikan rasa gurih yang berbeda dan memperkaya aroma keseluruhan hidangan.
Perpaduan Rasa Gurih dan Hangat
Rempah yang digunakan tidak hanya menambah cita rasa, tetapi juga memberi sensasi hangat di tubuh, sesuai dengan kebutuhan saat berbuka puasa.
Proses Memasak yang Penuh Ketelitian
Memasak Bubur India memerlukan waktu berjam jam. Beras dimasak bersama kaldu hingga benar benar lembut, kemudian bumbu rempah ditambahkan secara bertahap.
Pengadukan dilakukan terus menerus agar bubur tidak menggumpal dan rasa merata.
Panci Besar dan Kerja Kolektif
Tradisi ini melibatkan banyak orang. Para relawan bekerja sama menyiapkan bahan, memasak, hingga membagikan bubur kepada warga.
Kualitas Bahan
Pemilihan rempah berkualitas menjadi kunci agar rasa tetap konsisten seperti yang diwariskan leluhur.
Tradisi Berbagi Saat Ramadan
Salah satu nilai utama dari Bubur India Pekojan adalah semangat berbagi. Warga yang datang tidak dipungut biaya untuk menikmati hidangan tersebut.
Antrean panjang menjelang magrib menjadi pemandangan rutin setiap Ramadan.
Simbol Kebersamaan
Bubur dibagikan tanpa memandang latar belakang. Tradisi ini memperkuat hubungan antarwarga di tengah keberagaman.
Pelestarian Identitas Budaya
Dengan mempertahankan tradisi ini, komunitas Pekojan menjaga identitas budaya sekaligus memperkaya khazanah kuliner Jakarta.
Daya Tarik Wisata Ramadan
Dalam beberapa tahun terakhir, Bubur India Pekojan juga menarik perhatian wisatawan. Banyak orang datang khusus untuk mencicipi hidangan ini.
Keunikan rasa dan nilai sejarahnya menjadi daya tarik tersendiri.
Dokumentasi dan Media Sosial
Popularitas bubur ini turut meningkat melalui dokumentasi di media sosial. Pengunjung membagikan pengalaman mereka, memperluas jangkauan informasi.
Dukungan Pemerintah Daerah
Pemerintah setempat mendukung pelestarian tradisi ini sebagai bagian dari warisan budaya kota.
Bubur India Pekojan terus menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadan di Jakarta. Tradisi yang telah berlangsung sejak zaman dahulu ini memperlihatkan bagaimana kuliner dapat menjadi jembatan sejarah, budaya, dan kebersamaan di tengah dinamika ibu kota.



Comment