Gen Z mulai mengubah cara memandang liburan. Jika dulu perjalanan sering dikaitkan dengan pesta, keramaian malam, dan agenda padat demi mengejar banyak tempat sekaligus, kini banyak anak muda memilih suasana yang lebih tenang. Mereka mencari ruang untuk istirahat, menikmati alam, mengatur ulang energi, mencoba kegiatan wellness, berburu pengalaman lokal, sampai mengambil perjalanan pendek yang tidak terlalu membebani biaya. Laporan Hilton untuk tren perjalanan 2026 mencatat alasan utama wisatawan berlibur adalah untuk beristirahat dan mengisi ulang tenaga, dengan porsi 56 persen responden. Minat lain yang ikut menonjol adalah menghabiskan waktu di alam sebesar 37 persen, menjaga kesehatan mental sebesar 36 persen, dan menikmati waktu untuk diri sendiri sebesar 20 persen.
Cara Liburan Gen Z Mulai Bergeser
Perubahan gaya liburan Gen Z terlihat dari cara mereka memilih tujuan, menyusun agenda, dan menilai pengalaman. Banyak dari mereka tidak lagi merasa liburan harus selalu ramai, mahal, atau penuh kegiatan sampai tubuh kelelahan. Liburan kini lebih sering dipakai untuk mengambil jeda dari tekanan kerja, kuliah, media sosial, dan rutinitas kota yang padat.
Liburan Tidak Lagi Identik dengan Pesta
Bagi sebagian anak muda, pesta bukan lagi pusat perjalanan. Mereka tetap ingin bersenang senang, tetapi bukan berarti harus pulang dalam keadaan lelah. Pilihan seperti staycation tenang, glamping, wisata alam, spa, retret yoga, desa wisata, kafe kecil di kota dingin, dan penginapan sunyi mulai mendapat tempat.
Business Insider menyoroti naiknya sober tourism pada 2026, terutama di kalangan Gen Z. Tren ini menunjukkan makin banyak anak muda memilih liburan tanpa alkohol atau dengan konsumsi yang lebih sadar, karena alasan kesehatan fisik, ketenangan pikiran, penghematan biaya, dan keinginan mendapat pengalaman yang lebih dalam.
โLiburan yang baik bagi Gen Z bukan lagi soal seberapa ramai malamnya, tetapi seberapa pulih tubuh dan pikiran setelah pulang.โ
Ketenangan Menjadi Daya Tarik Baru
Banyak pelaku wisata kini melihat perubahan minat ini sebagai peluang. Hotel, vila, resor, dan destinasi lokal mulai menawarkan paket yang lebih menekankan istirahat, pemandangan, kuliner lokal, aktivitas ringan, dan ruang pribadi. Gen Z tetap aktif, tetapi mereka tidak selalu mencari liburan yang bising.
Rest and Recharge Masuk Prioritas
Hilton menyebut perjalanan pada 2026 makin dipengaruhi oleh alasan yang jelas. Istilah Whycation dipakai untuk menggambarkan wisatawan yang memilih perjalanan berdasarkan tujuan personal, bukan sekadar ikut arus. Dalam laporan itu, istirahat dan pemulihan tenaga menjadi alasan utama wisatawan berlibur.
Bagi Gen Z, ketenangan juga berkaitan dengan kesehatan mental. Banyak dari mereka tumbuh dalam era layar ponsel, notifikasi, persaingan konten, dan tekanan untuk selalu terlihat produktif. Saat liburan, yang dicari bukan hanya foto indah, tetapi suasana yang memberi ruang bernapas.
Wisata Alam Kembali Dilirik
Alam menjadi salah satu pilihan kuat bagi Gen Z yang ingin berlibur tanpa terlalu banyak kebisingan. Pantai sepi, pegunungan, danau, hutan pinus, sawah, serta desa wisata memberi suasana berbeda dari kota besar. Di tempat seperti itu, mereka bisa berjalan santai, berbincang, menulis, membaca, atau sekadar menikmati udara pagi.
Alam Memberi Ruang untuk Pelan Pelan
Skyscanner mencatat bahwa Gen Z tetap menjadi kelompok yang aktif bepergian. Secara global, 52 persen Gen Z disebut mengambil setidaknya tiga perjalanan leisure dalam setahun, sementara 62 persen menggunakan aplikasi dan platform digital untuk mencari penawaran yang lebih baik.
Angka tersebut menunjukkan Gen Z tidak berhenti bepergian. Mereka hanya lebih selektif. Mereka ingin perjalanan yang sesuai dengan biaya, suasana, dan kebutuhan pribadi. Karena itu, destinasi alam yang tidak terlalu mahal bisa menjadi pilihan menarik, terutama jika aksesnya mudah dan penginapannya nyaman.
Micro Vacations Makin Diminati
Tidak semua Gen Z punya cuti panjang atau anggaran besar. Banyak dari mereka memilih perjalanan pendek yang bisa dilakukan dalam dua sampai empat malam. Perjalanan seperti ini membuat liburan terasa lebih mudah diatur, tidak terlalu mahal, dan tetap memberi rasa segar.
Liburan Pendek Terasa Lebih Masuk Akal
Investopedia, merujuk Bank of America Summer Travel Outlook 2026, mencatat banyak Gen Z memilih micro vacations untuk mengatur jatah cuti dan anggaran. Sebanyak 47 persen Gen Z menyukai liburan pendek agar waktu istirahat bisa dibagi sepanjang tahun, 37 persen menyukai sifatnya yang spontan, dan 30 persen menilai perjalanan singkat lebih mudah secara keuangan.
Di Indonesia, pola serupa terlihat pada kebiasaan berlibur akhir pekan ke Bandung, Puncak, Yogyakarta, Malang, Bali, Bogor, Solo, Semarang, atau kawasan pantai yang tidak terlalu jauh. Gen Z tidak selalu harus mengambil perjalanan jauh. Mereka bisa memilih satu tempat, menginap singkat, lalu pulang dengan kondisi lebih segar.
Media Sosial Tetap Berpengaruh, tetapi Tidak Selalu Mengatur
Gen Z masih sangat dekat dengan media sosial. TikTok, Instagram, dan konten perjalanan tetap menjadi sumber ide. Namun, banyak anak muda kini tidak hanya mencari tempat yang ramai di foto. Mereka juga mencari tempat yang terasa nyaman ketika benar benar dikunjungi.
Konten Bagus Harus Diikuti Pengalaman Nyata
Skyscanner mencatat TikTok menjadi sumber inspirasi populer bagi Gen Z di Inggris dengan porsi 59 persen, diikuti Instagram sebesar 51 persen. Secara global, banyak Gen Z juga mengikuti travel influencer dan memakai rekomendasi digital sebelum memilih tempat.
Meski begitu, tempat yang bagus di layar belum tentu cocok untuk semua orang. Gen Z makin sering membaca ulasan, melihat video asli pengunjung, membandingkan biaya, dan memeriksa akses sebelum berangkat. Mereka tidak ingin hanya mendapat foto, tetapi juga pengalaman yang sesuai dengan harapan.
Wellness Jadi Alasan Berangkat
Wellness bukan lagi hanya milik wisatawan kelas premium. Gen Z mulai tertarik pada kegiatan sederhana yang membuat tubuh dan pikiran terasa lebih baik. Misalnya yoga pagi, berendam air hangat, jalan santai, tidur cukup, makanan sehat, pijat, perawatan kulit, meditasi, sampai digital detox.
Liburan Dipakai untuk Merawat Diri
Booking.com memprediksi wellness travel mendapat perhatian besar pada 2026. Salah satu tren yang disebut adalah glowcation, yaitu perjalanan yang menggabungkan liburan dengan perawatan kulit dan aktivitas self care. Hampir 80 persen wisatawan dalam laporan tersebut disebut terbuka untuk memesan perjalanan khusus yang berhubungan dengan perawatan kulit.
Bagi Gen Z, wellness tidak harus mahal. Menginap di tempat yang tenang, makan lebih teratur, tidur lebih awal, dan mengurangi layar ponsel sudah bisa terasa sebagai bentuk perawatan diri. Mereka mencari liburan yang tidak membuat tubuh rusak setelah pulang.
Pesta Tidak Hilang, tetapi Bukan Lagi Satu Satunya Pilihan
Bukan berarti Gen Z sepenuhnya meninggalkan hiburan malam. Banyak yang tetap menikmati konser, festival, kafe, dan acara komunitas. Namun, pesta tidak lagi menjadi ukuran utama keberhasilan liburan. Anak muda bisa merasa puas hanya dengan perjalanan yang tenang, makanan enak, obrolan panjang, dan pemandangan yang membuat pikiran lebih ringan.
Sober Tourism Membuka Ruang Baru
Sober tourism tidak selalu berarti melarang semua hal yang berhubungan dengan alkohol. Bagi banyak anak muda, ini lebih dekat dengan keputusan untuk menjaga kendali. Mereka ingin bangun pagi tanpa rasa tidak nyaman, tetap bisa menikmati aktivitas, dan tidak menghabiskan biaya besar untuk hiburan malam.
Business Insider menulis bahwa sober tourism tumbuh karena Gen Z mulai menilai liburan dari kesehatan, kejernihan, penghematan, dan pengalaman budaya. Hotel serta resor pun mulai merespons dengan mocktail, program wellness, dan pilihan aktivitas yang tidak berpusat pada minuman alkohol.
Pengalaman Lokal Lebih Dicari
Gen Z tidak selalu ingin liburan yang terlalu mewah. Banyak dari mereka tertarik pada pasar tradisional, kedai kecil, toko buku lokal, jalan kaki di kampung kota, kelas memasak, workshop kerajinan, hingga wisata kuliner yang dekat dengan warga setempat. Pengalaman lokal terasa lebih personal dan tidak kaku.
Liburan yang Terasa Dekat dengan Kehidupan Warga
Expedia Group dalam laporan Unpack 26 menyebut tren perjalanan 2026 bergerak ke arah pengalaman yang lebih beragam, termasuk farm stays, reading retreats, hotel yang memanfaatkan bangunan lama, dan pilihan perjalanan yang tidak selalu mengikuti pola wisata besar.
Pilihan seperti ini cocok dengan Gen Z yang ingin melihat sisi tempat secara lebih dekat. Mereka tidak hanya ingin datang ke ikon wisata, lalu pulang. Mereka ingin tahu tempat makan warga lokal, gang kecil yang menarik, toko kecil yang punya cerita, atau penginapan yang terasa punya karakter.
Biaya Tetap Menjadi Pertimbangan Besar
Gen Z dikenal berani mencoba pengalaman baru, tetapi mereka juga berhitung. Harga tiket, penginapan, transportasi lokal, makan, dan aktivitas menjadi bagian penting dalam keputusan. Karena itu, perjalanan tenang sering terasa lebih menarik karena tidak selalu membutuhkan biaya tinggi.
Aplikasi Bantu Mencari Pilihan Lebih Hemat
Skyscanner mencatat 62 persen Gen Z memakai aplikasi dan platform digital untuk mencari penawaran perjalanan yang lebih baik. Di sisi lain, 52 persen Gen Z Amerika disebut ingin lebih banyak bepergian ke luar negeri pada 2026, tetapi hanya 45 persen yang berencana menambah pengeluaran untuk penerbangan dan 35 persen untuk akomodasi.
Kondisi ini menunjukkan Gen Z ingin tetap bepergian, tetapi dengan cara yang lebih terukur. Mereka membandingkan harga, mencari tiket promo, memilih hari keberangkatan yang lebih murah, menginap di tempat sederhana, atau membagi biaya bersama teman.
Teman Dekat Lebih Penting daripada Keramaian Besar
Gen Z tetap menyukai perjalanan bersama teman. Namun, perjalanan itu tidak selalu harus berubah menjadi pesta besar. Kelompok kecil lebih banyak dipilih karena lebih mudah diatur, lebih nyaman, dan memberi ruang untuk percakapan yang lebih dekat.
Liburan Kecil Terasa Lebih Personal
Hilton mencatat dalam laporan regional bahwa Gen Z dan milenial lebih mungkin bepergian bersama teman dibanding generasi lain. Di salah satu laporan Eropa, 26 persen Gen Z disebut lebih cenderung melakukan perjalanan bersama teman.
Perjalanan bersama teman dekat memberi rasa aman dan akrab. Mereka bisa memilih vila kecil, kabin, glamping, homestay, atau penginapan dengan dapur bersama. Aktivitasnya pun tidak harus padat. Memasak bersama, menonton film, jalan pagi, atau berbincang di teras bisa menjadi bagian utama liburan.
Destinasi Tenang Bisa Menjadi Peluang Pelaku Wisata Lokal
Perubahan selera Gen Z memberi peluang bagi pelaku wisata lokal. Tidak semua destinasi harus dibuat ramai dengan musik keras, festival besar, atau spot foto yang terlalu dipaksakan. Banyak anak muda justru tertarik pada tempat yang rapi, bersih, nyaman, dan punya suasana tenang.
Penginapan Kecil Bisa Bersaing dengan Cara Berbeda
Homestay, vila kecil, glamping, guest house, dan hotel butik bisa menarik Gen Z jika mampu menawarkan pengalaman yang jelas. Misalnya kamar bersih, internet stabil, area duduk nyaman, makanan lokal, jalur jalan kaki, kebun kecil, pemandangan alam, dan informasi aktivitas sekitar.
Pelaku wisata juga perlu memperhatikan bahasa komunikasi. Gen Z menyukai informasi yang jujur. Foto tidak perlu berlebihan, tetapi harus sesuai keadaan. Ulasan tamu, video pendek, dan petunjuk lokasi yang jelas sering lebih dipercaya daripada promosi yang terlalu indah.
Digital Detox Mulai Masuk Daftar Liburan
Sebagian Gen Z tetap membuat konten saat bepergian, tetapi sebagian lain mulai ingin mengambil jarak dari layar. Digital detox menjadi salah satu alasan memilih tempat tenang. Mereka ingin mengurangi notifikasi, tidak terus memeriksa pekerjaan, dan menikmati waktu tanpa tekanan untuk selalu mengunggah sesuatu.
Diam Sejenak Menjadi Kemewahan Baru
Tempat tanpa terlalu banyak keramaian memberi kesempatan untuk hidup lebih pelan. Membaca buku di penginapan, jalan pagi tanpa kamera, menikmati teh di pegunungan, atau tidur lebih awal bisa menjadi pengalaman berharga. Bagi Gen Z yang terbiasa dengan dunia digital, suasana seperti ini terasa seperti kemewahan baru.
Tren reading retreats yang masuk dalam laporan Expedia Unpack 26 juga menunjukkan bahwa perjalanan bertema tenang mulai mendapat ruang. Liburan tidak harus selalu penuh atraksi. Ada wisatawan yang justru ingin pergi untuk membaca, istirahat, dan menikmati suasana yang tidak menekan.
Industri Wisata Perlu Membaca Arah Baru Gen Z
Pergeseran cara liburan Gen Z bukan berarti destinasi hiburan harus ditinggalkan. Yang berubah adalah pilihan. Anak muda ingin punya ruang untuk memilih antara keramaian dan ketenangan, antara festival dan alam, antara pesta dan wellness, antara perjalanan panjang dan micro vacations.
Pengalaman Tenang Bisa Bernilai Lebih Tinggi
Pelaku wisata yang ingin menarik Gen Z perlu menyiapkan layanan yang sederhana tetapi serius. Kamar harus nyaman, kebersihan dijaga, makanan lokal ditonjolkan, area umum dibuat hangat, dan aktivitas tidak dipaksakan terlalu padat. Paket liburan bisa dibuat lebih lentur, misalnya dua malam untuk istirahat, satu aktivitas ringan, dan waktu bebas yang cukup.
Gen Z ingin pulang dengan cerita yang terasa personal. Mereka bisa saja tetap mengambil foto dan membuat video, tetapi inti perjalanannya bukan hanya konten. Mereka mencari rasa pulih, hubungan yang lebih dekat dengan teman, ruang untuk merawat diri, dan tempat yang membuat mereka merasa tidak perlu terus mengejar keramaian.



Comment