Home » Blog » Cara Mengenali Emosi yang Sedang Dirasakan Menurut Psikolog
Psikolog
Lifestyle

Cara Mengenali Emosi yang Sedang Dirasakan Menurut Psikolog

Cara Mengenali Emosi yang Sedang Dirasakan Menurut Psikolog Mengenali emosi terdengar seperti kemampuan sederhana. Seseorang biasanya merasa dirinya pasti tahu ketika sedang marah, sedih, takut, kecewa, atau senang. Kenyataannya, tidak semua perasaan muncul dengan bentuk yang jelas. Kecemasan dapat terlihat seperti mudah tersinggung, kesedihan dapat muncul sebagai kelelahan, sedangkan rasa malu kadang ditutupi dengan sikap defensif.

Kesulitan mengenali emosi dapat membuat seseorang bereaksi sebelum memahami apa yang sebenarnya terjadi di dalam dirinya. Ia mungkin meninggikan suara, menarik diri, makan berlebihan, menunda pekerjaan, atau menyalahkan orang lain tanpa mengetahui perasaan yang mendorong perilaku tersebut.

American Psychological Association menjelaskan emosi sebagai pola reaksi kompleks yang melibatkan pengalaman pribadi, perubahan tubuh, dan perilaku ketika seseorang menghadapi peristiwa yang dianggap penting. Ancaman dapat memunculkan rasa takut, sedangkan penolakan atau penilaian buruk dari orang lain dapat memicu rasa malu.

Karena emosi melibatkan tubuh, pikiran, dan tindakan, cara mengenalinya juga perlu dilakukan melalui beberapa jalur. Seseorang tidak cukup hanya bertanya, “Apa yang saya rasakan?” Ia perlu memperhatikan sensasi fisik, isi pikiran, dorongan bertindak, serta kejadian yang berlangsung sebelum perasaan muncul.

Berhenti Sejenak sebelum Memberi Respons

Langkah pertama adalah memberi jeda. Saat emosi meningkat, perhatian biasanya tertuju kepada orang, pesan, kejadian, atau perkataan yang dianggap sebagai penyebab.

Gen Z Makin Memilih Gym, Dari Hidup Sehat Sampai Ruang Pergaulan Baru

Jeda tidak harus berlangsung lama. Beberapa tarikan napas dapat memberi kesempatan untuk mengalihkan perhatian dari kejadian luar menuju keadaan diri sendiri.

Seseorang dapat bertanya, “Apa yang sedang terjadi pada tubuh saya?” Pertanyaan ini sering lebih mudah dijawab daripada langsung menentukan nama emosi.

Saat marah, seseorang mungkin merasakan rahang mengeras, tangan mengepal, wajah panas, dan detak jantung meningkat. Ketika takut, perut dapat terasa tidak nyaman, napas menjadi pendek, serta tubuh ingin segera menjauh.

Kesedihan dapat disertai dada terasa berat, tenaga menurun, dan keinginan untuk diam. Rasa malu sering diikuti wajah memanas, pandangan menghindar, dan dorongan untuk menghilang dari perhatian.

Jeda juga membantu mencegah respons spontan yang kemudian disesali. Tujuannya bukan menekan emosi, melainkan memberi ruang agar perasaan dapat dikenali sebelum berubah menjadi tindakan.

Gen Z Pilih Liburan Tenang, Pesta Tak Lagi Jadi Tujuan Utama

Layanan kesehatan mental CAMHS di Inggris menekankan bahwa pengaturan emosi bukan berarti menekan perasaan. Prosesnya adalah memahami emosi dan memilih respons yang lebih bijaksana.

Perhatikan Pesan yang Dikirim Tubuh

Tubuh sering mengenali perubahan emosi sebelum pikiran mampu menjelaskannya. Karena itu, psikolog kerap menggunakan pemetaan tubuh untuk membantu seseorang menemukan sensasi yang muncul.

Mulailah dari kepala dan bergerak perlahan menuju kaki. Periksa apakah terdapat tekanan di kepala, ketegangan pada dahi, tenggorokan terasa sempit, bahu terangkat, dada berdebar, perut melilit, atau kaki terasa lemas.

Tidak ada tanda tubuh yang selalu menunjuk pada satu emosi. Jantung berdebar dapat muncul karena takut, gembira, marah, berolahraga, atau terlalu banyak minum kopi.

Tanda fisik perlu dibaca bersama kejadian dan pikiran yang menyertainya. Jantung berdebar sebelum wawancara kerja mungkin berkaitan dengan cemas. Jantung berdebar ketika menerima kabar baik dapat berhubungan dengan kegembiraan.

Earphone Kini Jadi Aksesori Outfit Olahraga yang Bikin Tampilan Makin Gaya

Seseorang juga perlu memeriksa kebutuhan dasar tubuh. Kurang tidur, lapar, demam, perubahan hormonal, dan konsumsi kafein dapat membuat tubuh lebih mudah bereaksi.

Pemetaan tubuh dapat dilakukan dengan menggambar bentuk tubuh pada kertas, lalu menandai bagian yang terasa berbeda. Cara ini sering membantu orang yang kesulitan menjelaskan perasaannya dengan kata.

Layanan kesehatan Sussex Partnership menyarankan penggunaan roda emosi dan peta tubuh untuk membantu mengenali perasaan serta sensasi fisik yang menyertainya.

Cari Tahu Pikiran yang Sedang Berjalan

Emosi biasanya berjalan bersama penilaian tertentu mengenai sebuah kejadian. Dua orang dapat menghadapi situasi yang sama, tetapi merasakan hal berbeda karena memberikan penilaian yang tidak sama.

Ketika pesan tidak dibalas, seseorang dapat berpikir bahwa temannya sedang sibuk. Ia mungkin tetap tenang. Orang lain dapat berpikir dirinya sengaja diabaikan sehingga merasa sedih atau marah.

Untuk mengenali emosi, perhatikan kalimat yang muncul di dalam kepala. Pikiran seperti “Saya tidak aman” sering berkaitan dengan ketakutan. Kalimat “Saya diperlakukan tidak adil” dapat berkaitan dengan kemarahan.

Pikiran “Saya tidak cukup baik” dapat muncul bersama rasa malu atau kecewa. Kalimat “Saya akan kehilangan sesuatu yang penting” sering berhubungan dengan kesedihan dan kekhawatiran.

Tuliskan pikiran tersebut tanpa segera menyatakan bahwa isinya benar atau salah. Pada tahap awal, tugasnya hanya mengamati.

Setelah emosi mulai diketahui, seseorang dapat memeriksa apakah pikirannya berdasarkan fakta, dugaan, pengalaman lama, atau kekhawatiran yang belum terjadi.

Langkah ini membantu memisahkan antara kejadian dan penafsiran. Perasaan tetap sah untuk dirasakan, tetapi penafsiran terhadap kejadian belum tentu sepenuhnya akurat.

Kenali Dorongan yang Muncul

Setiap emosi sering membawa dorongan tertentu. Marah dapat memunculkan keinginan menyerang, membantah, atau meninggikan suara. Takut dapat mendorong seseorang melarikan diri, bersembunyi, atau menghindari keadaan.

Sedih dapat memunculkan dorongan menangis dan menarik diri. Rasa bersalah dapat membuat seseorang ingin meminta maaf atau memperbaiki kesalahan.

Rasa jijik dapat menimbulkan keinginan menjauhkan sesuatu. Gembira dapat mendorong seseorang berbagi kabar, tersenyum, atau mendekati orang lain.

Dorongan tersebut memberi petunjuk penting ketika nama emosi belum ditemukan. Seseorang dapat bertanya, “Apa yang ingin saya lakukan sekarang?”

Jawaban seperti “Saya ingin membanting pintu” dapat menunjukkan kemarahan atau frustrasi. “Saya ingin membatalkan semuanya” mungkin menunjuk pada takut, kewalahan, atau malu.

Dorongan bukan perintah yang harus dijalankan. Seseorang dapat mengakui keinginan untuk berteriak tanpa benar benar melakukannya.

“Mengenali dorongan bertindak memberi kesempatan kepada seseorang untuk memilih respons, bukan sekadar mengikuti reaksi pertama yang muncul.”

Gunakan Kata yang Lebih Tepat daripada Baik atau Buruk

Banyak orang hanya menggunakan kata “baik”, “buruk”, “kesal”, atau “stres” untuk menjelaskan keadaan emosional. Kata tersebut terlalu luas dan dapat menyembunyikan perasaan yang lebih khusus.

Kesal dapat berarti marah, kecewa, malu, iri, tersinggung, lelah, atau merasa tidak dihargai. Stres dapat berisi khawatir, tertekan, takut gagal, kewalahan, dan tidak berdaya.

Yale Center for Emotional Intelligence mengembangkan kerangka RULER yang mencakup lima kemampuan, yaitu mengenali, memahami, memberi label, mengekspresikan, dan mengatur emosi. Pemberian nama yang lebih bernuansa menjadi salah satu bagian penting dalam kemampuan emosional.

Seseorang dapat memakai daftar kata atau roda emosi. Mulailah dari kelompok besar seperti marah, takut, sedih, gembira, terkejut, dan jijik.

Setelah itu, cari istilah yang lebih khusus. Marah dapat berkembang menjadi jengkel, geram, tersinggung, frustrasi, atau merasa dikhianati. Takut dapat berupa gugup, waspada, cemas, terancam, atau panik.

Semakin tepat kata yang dipilih, semakin mudah seseorang memahami kebutuhannya. Kecewa mungkin membutuhkan penyesuaian harapan. Kesepian membutuhkan hubungan. Rasa bersalah mungkin membutuhkan perbaikan.

Mengucapkan Nama Emosi Dapat Membantu

Setelah menemukan kata yang tepat, ucapkan dalam kalimat sederhana. Misalnya, “Saya merasa cemas,” “Saya sedang kecewa,” atau “Saya merasa tersinggung.”

Hindari kalimat yang langsung menuduh orang lain, seperti “Kamu membuat saya marah.” Bentuk yang lebih membantu adalah, “Saya merasa marah ketika percakapan saya dipotong.”

Penelitian mengenai affect labeling menunjukkan bahwa menempatkan perasaan ke dalam kata dapat berkaitan dengan berkurangnya reaktivitas emosional pada bagian otak tertentu.

Penelitian lain juga menemukan tingkat kesusahan yang dilaporkan peserta lebih rendah ketika mereka memberi nama pada emosi negatif dibandingkan hanya melihat rangsangan emosional secara pasif.

Pemberian nama bukan tombol yang langsung menghilangkan perasaan. Pada sebagian keadaan, emosi tetap kuat dan membutuhkan waktu.

Namun, kalimat yang jelas membantu seseorang mengubah pengalaman samar menjadi sesuatu yang dapat diperhatikan dan dibicarakan.

Bedakan Emosi Utama dan Emosi Pelindung

Perasaan yang tampak di permukaan belum tentu menjadi emosi utama. Kemarahan sering berfungsi melindungi seseorang dari rasa takut, sedih, malu, atau terluka.

Seseorang yang marah karena pasangannya terlambat mungkin sebenarnya merasa tidak dianggap penting. Orang yang kesal menerima kritik dapat menyimpan rasa malu atau takut gagal.

Untuk menemukan lapisan yang lebih dalam, tanyakan, “Apa yang terasa menyakitkan dalam kejadian ini?” atau “Apa yang saya takutkan akan terjadi?”

Pertanyaan tersebut bukan berarti kemarahan tidak nyata. Kemarahan tetap ada, tetapi dapat berdiri di atas perasaan lain.

Perasaan sekunder juga dapat muncul setelah emosi pertama. Seseorang merasa sedih, lalu marah kepada dirinya sendiri karena menganggap kesedihan sebagai kelemahan.

Ada pula orang yang merasa takut, kemudian malu karena merasa takut. Campuran seperti ini membuat keadaan emosional terasa semakin rumit.

Dengan membedakan lapisan tersebut, seseorang dapat merespons kebutuhan yang sebenarnya. Rasa marah mungkin membutuhkan batas yang tegas, sedangkan rasa terluka membutuhkan dukungan dan pengakuan.

Periksa Kejadian yang Menjadi Pemicu

Setelah mengetahui tanda tubuh, pikiran, dan dorongan, lihat kembali kejadian yang mendahuluinya.

Pemicu dapat berupa perkataan orang, nada suara, pesan singkat, berita, tempat, tanggal tertentu, ingatan, atau perubahan rencana.

Pemicu juga dapat berasal dari dalam diri, seperti membayangkan kegagalan, mengingat pengalaman buruk, atau membandingkan diri dengan orang lain.

Catat apa yang terjadi sebelum emosi meningkat. Tulis siapa yang terlibat, kapan kejadian berlangsung, apa yang dikatakan, dan apa yang langsung dipikirkan.

Pencatatan selama beberapa minggu dapat memperlihatkan pola. Seseorang mungkin lebih mudah marah ketika kurang tidur atau lebih cemas menjelang rapat tertentu.

Mengetahui pemicu tidak berarti semua keadaan harus dihindari. Informasi tersebut membantu persiapan.

Seseorang yang mengetahui dirinya gugup sebelum presentasi dapat berlatih, tiba lebih awal, dan mengatur napas. Orang yang mudah tersinggung saat lapar dapat mengatur waktu makan.

Nilai Kekuatan Emosi dengan Angka

Emosi tidak hanya berbeda dalam jenis, tetapi juga kekuatan. Rasa jengkel ringan tidak sama dengan kemarahan yang membuat seseorang kehilangan kendali.

Gunakan skala nol sampai sepuluh. Nol berarti emosi hampir tidak terasa, sedangkan sepuluh menunjukkan tingkat paling kuat yang pernah dialami.

Memberi angka membantu seseorang memperhatikan perubahan. Kecemasan yang awalnya delapan mungkin turun menjadi lima setelah berbicara dengan orang terpercaya.

Skala juga berguna untuk menentukan langkah. Emosi pada tingkat tiga mungkin cukup ditangani dengan istirahat singkat. Emosi pada tingkat sembilan membutuhkan penghentian aktivitas, menjauh dari pertengkaran, atau meminta bantuan.

Penilaian tidak harus sempurna. Angka hanya menjadi alat untuk membandingkan keadaan saat ini dengan pengalaman sebelumnya.

Seseorang juga dapat menilai energi dan kenyamanan secara terpisah. Marah mempunyai energi tinggi dan terasa tidak nyaman. Sedih sering mempunyai energi rendah dan tidak nyaman.

Gembira dapat terasa menyenangkan dengan energi tinggi, sedangkan tenang mempunyai energi rendah dan menyenangkan.

Catat Emosi dalam Jurnal Singkat

Jurnal emosi tidak perlu berbentuk tulisan panjang. Catatan singkat yang dilakukan secara rutin justru lebih mudah dipertahankan.

Gunakan lima bagian, yaitu kejadian, sensasi tubuh, pikiran, nama emosi, dan tindakan yang dilakukan.

Contohnya, rapat dibatalkan mendadak. Bahu terasa tegang. Pikiran yang muncul adalah pekerjaan saya tidak dihargai. Emosi yang dirasakan adalah kecewa dan marah pada tingkat enam. Tindakan yang dipilih adalah menunda balasan selama 15 menit.

Setelah beberapa waktu, jurnal dapat memperlihatkan pola hubungan antara pemicu, emosi, dan perilaku.

Menulis juga memberi jarak dari pengalaman. Seseorang tidak lagi sepenuhnya berada di dalam perasaan, tetapi mulai mengamatinya.

Penelitian mengenai pemberian label emosi dan tulisan ekspresif menunjukkan bahwa proses menempatkan pengalaman ke dalam kata dapat berkaitan dengan perubahan pada kesejahteraan psikologis dan fisik.

Jurnal tetap perlu digunakan secara seimbang. Jika menulis justru membuat seseorang terus mengulang kejadian tanpa memperoleh kejelasan, percakapan dengan psikolog dapat lebih membantu.

Jangan Menilai Emosi sebagai Salah atau Memalukan

Emosi muncul sebagai respons terhadap sesuatu yang dinilai penting. Seseorang tidak selalu dapat memilih perasaan pertama yang datang.

Yang dapat dipilih adalah cara menanggapi perasaan tersebut. Marah bukan alasan untuk melakukan kekerasan. Takut bukan tanda bahwa seseorang lemah.

Cemburu dapat memberi informasi bahwa ada rasa tidak aman atau kebutuhan yang belum dibicarakan. Rasa bersalah dapat menunjukkan bahwa tindakan seseorang tidak sesuai dengan nilai yang diyakininya.

Menerima keberadaan emosi berbeda dari menyetujui seluruh tindakan yang muncul setelahnya.

Kalimat “Saya tidak boleh merasa seperti ini” sering membuat emosi menjadi lebih rumit karena muncul rasa malu atau bersalah tambahan.

Bentuk yang lebih membantu adalah, “Perasaan ini sedang ada. Saya perlu mencari tahu apa yang membutuhkannya.”

Tanyakan Kebutuhan di Balik Perasaan

Setelah emosi berhasil dikenali, tanyakan apa yang dibutuhkan. Jawaban tidak selalu berupa tindakan besar.

Rasa lelah dan kewalahan mungkin membutuhkan istirahat, bantuan, atau pengurangan tugas. Kesepian dapat membutuhkan percakapan yang hangat.

Kemarahan dapat menunjukkan batas pribadi telah dilanggar. Rasa kecewa mungkin membutuhkan pembicaraan mengenai harapan.

Takut dapat membutuhkan informasi, persiapan, perlindungan, atau dukungan. Kesedihan sering membutuhkan waktu untuk berduka dan ditemani tanpa dipaksa segera merasa baik.

Tidak seluruh kebutuhan dapat dipenuhi seketika. Namun, mengenalinya membantu seseorang memilih langkah yang sesuai.

“Emosi sering menjadi petunjuk mengenai kebutuhan, tetapi tetap diperlukan pertimbangan agar cara memenuhinya tidak merugikan diri sendiri atau orang lain.”

Berbicara dengan Orang yang Aman

Sebagian orang baru dapat memahami emosinya setelah berbicara. Percakapan membantu menyusun kejadian yang sebelumnya terasa bercampur.

Pilih orang yang mampu mendengarkan tanpa langsung menghakimi atau memberi ceramah. Sampaikan bahwa tujuan percakapan adalah memahami perasaan, bukan selalu mencari solusi.

Kalimat pembuka dapat berupa, “Saya belum yakin apa yang saya rasakan, tetapi tubuh saya tegang sejak kejadian tadi.”

Orang lain dapat membantu dengan pertanyaan sederhana, seperti apa yang paling mengganggu, apa yang ditakutkan, atau bagian mana yang terasa menyakitkan.

Percakapan tidak berarti menyerahkan penilaian emosi kepada orang lain. Seseorang tetap menjadi pihak yang paling mengetahui pengalaman dirinya.

Namun, pandangan dari luar dapat membantu ketika pikiran terlalu penuh.

Waspadai Kebiasaan yang Menutupi Emosi

Sebagian orang menutupi perasaan dengan bekerja terus menerus, bermain gim, menggunakan media sosial, berbelanja, makan, atau tidur berlebihan.

Kegiatan tersebut tidak selalu bermasalah. Persoalan muncul ketika digunakan berulang kali agar tidak perlu menghadapi perasaan.

Perhatikan dorongan yang muncul segera setelah kejadian emosional. Apakah tangan langsung mencari telepon? Apakah seseorang segera memesan makanan meski tidak lapar?

Tanyakan apa yang akan dirasakan jika kegiatan pengalih itu dihentikan selama beberapa menit.

Jawabannya dapat membuka emosi yang tersembunyi. Seseorang mungkin menemukan kesepian di balik kebiasaan menggulir media sosial atau rasa gagal di balik keinginan bekerja tanpa henti.

Kapan Perlu Menemui Psikolog

Kesulitan mengenali emosi dapat terjadi pada siapa saja. Bantuan profesional layak dipertimbangkan ketika emosi terasa sangat kuat, berlangsung lama, sering memicu konflik, atau mengganggu pekerjaan, sekolah, tidur, dan hubungan.

Pertolongan juga diperlukan apabila seseorang terus merasa kosong, tidak mampu merasakan apa pun, mengalami serangan panik, menyakiti diri, atau memakai alkohol dan zat lain untuk mengendalikan perasaan.

NHS menyediakan panduan untuk berbagai keadaan seperti stres, kecemasan, ketakutan, suasana hati rendah, kesepian, duka, dan kemarahan, serta menganjurkan bantuan segera ketika terdapat krisis kesehatan mental.

Psikolog dapat membantu mengenali pola tubuh, pikiran, perilaku, dan pengalaman lama yang memengaruhi respons emosional.

Proses tersebut tidak bertujuan membuat seseorang selalu tenang atau senang. Seluruh emosi tetap mempunyai tempat.

Kemampuan yang dibangun adalah mengetahui apa yang sedang dirasakan, memahami penyebabnya, mengungkapkannya dengan aman, lalu memilih tindakan yang sesuai dengan kebutuhan dan nilai pribadi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *