PINTU Perkuat Jembatan Mode Indonesia dan Prancis lewat Kolaborasi PINTU Incubator kembali memperluas hubungan industri mode Indonesia dan Prancis melalui rangkaian pembinaan, residensi lintas budaya, pertukaran pendidikan, serta kerja bersama antarjenama. Memasuki tahun kelima pada 2026, program ini tidak lagi hanya membantu desainer muda menyiapkan koleksi untuk peragaan busana, tetapi ikut membangun fondasi bisnis agar merek lokal mampu bertahan dan memasuki pasar internasional.
Perkembangan terbaru PINTU diumumkan dalam konferensi pers di JF3 Media Room, Gafoy, Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta, Senin, 20 Juli 2026. PINTU pada tahun ini menjalankan program inkubasi, akselerasi bisnis, dan residensi yang mempertemukan desainer Indonesia dengan desainer Prancis. Karya hasil pendampingan tersebut ditampilkan dalam JF3 Fashion Festival 2026 yang berlangsung pada 22 sampai 29 Juli 2026.
PINTU juga memulai proses pembentukan Yayasan PINTU Incubator Indonesia. Badan tersebut disiapkan untuk memperkuat kelembagaan, menjaga kesinambungan program, memperluas kerja sama, serta menjangkau lebih banyak desainer, perajin, dan usaha kecil di bidang mode.
Berawal dari Kerja Sama Bilateral pada 2022
PINTU merupakan singkatan dari Indonesian French Fashion Incubator. Program ini diluncurkan pada 2022 sebagai kerja sama antara JF3 Fashion Festival, LAKON Indonesia, dan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia melalui Institut Français d’Indonésie atau IFI.
Sejak awal, PINTU dirancang sebagai program bilateral bagi kreator serta usaha kecil dan menengah dalam industri mode Indonesia dan Prancis. Tujuannya adalah mempersiapkan talenta untuk memperoleh perhatian internasional, dengan penekanan pada pengelolaan bisnis, keberlanjutan, keterampilan tradisional, serta pengembangan identitas kreatif.
Program ini bukan sekadar lomba yang memilih satu pemenang. Peserta mengikuti proses seleksi, kelas, konsultasi individual, penilaian produk, pembentukan strategi bisnis, dan pertemuan dengan pelaku industri.
Desainer juga belajar memahami perilaku pembeli, penentuan harga, kesiapan produksi, perlindungan kekayaan intelektual, ekspor, komunikasi merek, serta pengelolaan keuangan. Rangkaian tersebut diperlukan karena koleksi yang menarik belum tentu siap diproduksi secara konsisten atau ditawarkan kepada pembeli internasional.
Menurut penulis, kekuatan PINTU terletak pada kemampuannya menyatukan kreativitas dan disiplin usaha. Desainer tidak hanya diminta menghasilkan pakaian yang menarik, tetapi juga menjelaskan siapa pembelinya, bagaimana produk dibuat, serta apakah bisnisnya mampu memenuhi pesanan.
Jaringan PINTU Terus Membesar
Program bilateral ini telah menarik perhatian ribuan pelaku mode. Hingga Mei 2025, PINTU mencatat lebih dari 10.000 merek yang menunjukkan minat, memilih 51 peserta, dan melibatkan 86 mentor. Sebanyak 33 mentor di antaranya berasal dari Prancis.
Jaringan tersebut mencakup desainer, pengelola ritel, ahli komunikasi, konsultan bisnis, pengajar, pengelola pameran dagang, perajin tekstil, serta perwakilan lembaga pemerintahan. PINTU berusaha mempertemukan pihak yang biasanya bekerja dalam ruang terpisah agar peserta memahami keseluruhan rantai industri.
Institut Français Indonesia menjelaskan bahwa program ini memberikan pendampingan, akses menuju jejaring profesional, kesempatan memperoleh modal awal, serta jalur menuju panggung mode di Indonesia dan pameran dagang di Paris.
Hubungan tersebut memberi keuntungan dua arah. Desainer Indonesia memperoleh pengetahuan mengenai pasar Eropa, sementara peserta dan mentor Prancis dapat mengenal teknik tekstil, sistem produksi, serta komunitas perajin Indonesia secara langsung.
Seleksi 2026 Diikuti 39 Peserta
Sebanyak 39 peserta mendaftar pada penyelenggaraan PINTU Incubator 2026. Melalui seleksi awal, sepuluh desainer dan merek dipilih untuk mengikuti pembinaan intensif.
Sepuluh peserta tersebut terdiri atas Toja House, Ulur Wiji, Sausan Official, Tegep Boots, Saul Studio, Andrean NR, KRINS Studios, ALDRIE, Esvari, dan DACIA. Mereka berasal dari latar yang beragam, mulai dari rumah kerajinan, produsen kulit, label busana genderless, busana modest, hingga desainer yang menggunakan bahan tidak biasa.
Seleksi tidak hanya menilai kemampuan menggambar atau menjahit. Tim kurator memeriksa identitas merek, kesiapan produk, kemampuan usaha, rencana pengembangan, serta peluang peserta memasuki pasar yang lebih luas.
Kurator pada program 2026 melibatkan Thresia Mareta dari LAKON Indonesia, desainer senior Susan Budihardjo, Lydia Kartawidjaja dari Star Department Store, ahli perencanaan bisnis Andi Yuktipada, serta Atase Kebudayaan Kedutaan Besar Prancis Carol Meyer.
Lima Peserta Terpilih Tampil di JF3 2026
Setelah mengikuti beberapa tahap penilaian, lima peserta dipilih untuk menampilkan koleksi dalam JF3 Fashion Festival 2026. Mereka adalah ALDRIE, ANDREAN NR, DACIA, Saul Studio, dan Toja House.
Peragaan berlangsung pada 23 Juli 2026 pukul 16.30 WIB di JF3 Fashion Tent, Summarecon Mall Kelapa Gading. Mereka tampil dalam satu sesi bersama tiga lulusan École Duperré Paris serta empat finalis Future Fashion Designer.
Kehadiran peserta Indonesia dan Prancis pada panggung yang sama memperlihatkan cara PINTU bekerja. Hubungan bilateral tidak hanya dibangun melalui pertemuan resmi, tetapi diterjemahkan menjadi kegiatan produksi, pendidikan, dan presentasi karya.
Lima peserta tersebut mewakili beberapa kelompok produk. Ada busana siap pakai, aksesori, pakaian tanpa batas gender, teknik daur ulang, konstruksi busana, serta produksi berbasis keterampilan tangan.
ALDRIE Menggabungkan Wastra dan Siluet Eksperimental
ALDRIE didirikan Aldri Indrayana pada 2015. Sang pendiri menempuh pendidikan di The Fashion Institute Sydney dan mengikuti studi lanjutan di Central Saint Martins.
Label ini dikenal melalui siluet minimalis, palet warna gelap, potongan eksperimental, dan penggunaan simbol budaya Indonesia. Batik dan tenun ditempatkan dalam rancangan kontemporer untuk busana pria, perempuan, serta koleksi khusus.
ALDRIE juga menggunakan kembali pakaian lama dan limbah plastik dalam pengembangan produknya. Langkah tersebut memperlihatkan bahwa bahan sisa dapat diolah menjadi bagian utama desain, bukan sekadar tambahan dekoratif.
ANDREAN NR Membawa Busana Genderless
ANDREAN NR merupakan label asal Yogyakarta yang didirikan Andrean Nuur Ramadhan pada 2019. Label ini mengembangkan busana siap pakai genderless dengan pendekatan daur ulang sebagai bagian dari proses perancangan.
Koleksinya mencakup pengolahan denim dan kolaborasi tekstil. ANDREAN NR mencoba menghapus pembagian yang terlalu kaku antara pakaian laki laki dan perempuan, sambil mempertahankan sentuhan kerajinan Indonesia.
Pilihan tersebut dapat menjangkau kelompok konsumen yang mencari pakaian berdasarkan potongan, kenyamanan, dan karakter, bukan semata berdasarkan kategori gender yang tercantum pada label.
DACIA Mengutamakan Konstruksi dan Detail
DACIA didirikan oleh Daciadhia Phoebehana, lulusan Binus Northumbria School of Design. Jenama tersebut menawarkan koleksi siap pakai, uniseks, serta pembuatan khusus.
Karya DACIA menonjolkan permainan tekstur, warna, serta siluet yang dapat digunakan dalam acara formal maupun kegiatan sehari hari. Prinsip produksi bertanggung jawab diterapkan mulai dari pemilihan bahan hingga proses pengerjaan.
Pendekatan ini menempatkan estetika dan tata kelola produksi sebagai dua unsur yang harus berjalan bersama. Keindahan produk tidak dipisahkan dari cara bahan diperoleh dan pakaian diselesaikan.
Toja House Mengolah Motif Menjadi Tas
Toja House didirikan Dian Kartini bersama Iksiri Asna Utami di Yogyakarta. Merek tersebut mengolah berbagai rujukan tekstil Nusantara, termasuk Kawung, Mamuli, Palawa, Buna, serta Noken, menjadi tas buatan tangan.
Produksi melibatkan perajin perempuan. Toja House menggunakan pola produksi lambat agar setiap produk memperoleh pengerjaan yang cukup dan tidak dibuat secara berlebihan.
Tas ditempatkan sebagai benda yang membawa pengetahuan budaya, bukan hanya aksesori. Tantangannya adalah menjelaskan asal motif secara benar, memberi penghargaan kepada pembuat, dan memastikan kualitasnya mampu memenuhi standar pasar lebih luas.
Saul Studio Membawa Cara Berpikir Arsitektur
Saul Studio didirikan Debora Mettu, seorang arsitek yang kemudian mendalami desain mode di Esmod Jakarta. Latar tersebut terlihat melalui pola geometris, konstruksi panel, garis bersih, dan potongan terukur.
Merek asal Jakarta Selatan itu membidik perempuan profesional yang mencari busana dengan karakter kuat. Saul Studio menerapkan produksi dalam jumlah terbatas serta menjaga ketepatan pola dan bahan.
Kehadirannya memperlihatkan bahwa pelaku mode Indonesia tidak selalu datang dari jalur pendidikan yang sama. Pengetahuan dari arsitektur dapat diterjemahkan menjadi pemahaman mengenai proporsi, ruang, susunan, dan struktur pakaian.
Peserta Mengikuti 39 Sesi Pengembangan
PINTU 2026 menjalankan program intensif selama empat bulan, mulai April hingga Juli. Peserta mengikuti 39 sesi yang mencakup perencanaan usaha, merchandising, pengembangan produk, keuangan, teknologi finansial, ekspor dan impor, hukum, kekayaan intelektual, komunikasi, serta styling.
Sebanyak 18 mentor Indonesia dan Prancis terlibat dalam proses tersebut. Pendampingan diberikan melalui kelas umum, lokakarya, evaluasi, serta konsultasi individual.
Materi hukum dibutuhkan agar desainer memahami pendaftaran merek, kepemilikan motif, kontrak produksi, kerja sama dengan perajin, dan perjanjian distribusi. Kesalahan pada bagian ini dapat menimbulkan sengketa ketika merek mulai dikenal.
Kelas ekspor membahas dokumen, logistik, posisi harga, bea, dan kebutuhan pasar tujuan. Produk yang dapat dijual di Indonesia belum tentu langsung memenuhi aturan ukuran, pelabelan, bahan, atau pengiriman di negara lain.
Materi merchandising membantu peserta menentukan jumlah model, warna, ukuran, dan harga. Desainer belajar bahwa terlalu banyak pilihan dapat meningkatkan biaya produksi dan menyulitkan pengendalian persediaan.
Residensi Mempertemukan Desainer Secara Setara
PINTU Residency 2026 berlangsung selama empat bulan dari April hingga Juli. Untuk pertama kalinya, dua desainer Indonesia bergabung sebagai peserta penuh bersama dua desainer Prancis.
Mereka dibagi menjadi dua pasangan kreatif. Setiap pasangan terdiri atas satu desainer Indonesia dan satu desainer Prancis. Satu kelompok menjalani riset di Mojokerto, sedangkan kelompok lain bekerja di Lombok.
Para peserta tinggal dan bekerja dekat dengan komunitas perajin. Mereka mempelajari batik, tenun, pewarnaan, proses pembuatan bahan, serta kebiasaan sosial yang menyertai pekerjaan tersebut.
Susunan pasangan dibuat agar tidak ada satu pihak yang hanya menjadi pemberi gagasan dan pihak lain sekadar pelaksana. Setiap desainer terlibat dalam pemilihan bahan, pembuatan prototipe, pengembangan bentuk, serta penyusunan koleksi.
Menurut penulis, kerja lintas budaya harus menempatkan perajin dan desainer sebagai rekan yang setara. Wastra tidak boleh diperlakukan hanya sebagai permukaan indah tanpa penjelasan mengenai asal, teknik, dan orang yang membuatnya.
GARUDA Lahir dari Pertemuan Prancis dan Lombok
Desainer Prancis Mickaël Nana berpasangan dengan desainer Indonesia Beatrice Angelica dalam residensi di Lombok. Mereka menghasilkan koleksi bertajuk GARUDA.
Koleksi tersebut mempertemukan tailoring Barat dengan tenun dan songket Lombok. Simbol Garuda diterjemahkan melalui bentuk yang lebih kontemporer tanpa menghilangkan hubungan dengan identitas Indonesia.
Proses kerja di Lombok memberi kesempatan bagi desainer untuk melihat cara benang disiapkan, warna dipilih, motif disusun, serta kain dikerjakan. Pemahaman ini diperlukan sebelum tekstil tradisional dipotong atau ditempatkan pada konstruksi pakaian.
Kolaborasi juga membuka percakapan mengenai ukuran produksi. Tenun buatan tangan tidak dapat diperlakukan seperti kain pabrik dengan pasokan yang selalu seragam. Desainer perlu menyesuaikan jumlah koleksi dengan kemampuan perajin dan waktu pengerjaan.
AU LARGE Menghubungkan Pesisir Jawa dan Prancis
Pasangan kedua terdiri atas Lisa Rayar dari Prancis dan Gabriel Marcella dari Indonesia. Mereka bekerja di Mojokerto untuk mengembangkan koleksi AU LARGE.
Koleksi tersebut memadukan inspirasi budaya maritim Prancis dan tradisi pesisir Jawa. Batik, tailoring, serta siluet modern digunakan untuk menemukan titik pertemuan antara dua wilayah yang sama sama mempunyai hubungan erat dengan laut.
Pertemuan tersebut tidak berarti mencampurkan seluruh simbol secara bebas. Desainer perlu memilih unsur yang mempunyai hubungan visual dan teknik yang dapat dipertanggungjawabkan.
GARUDA dan AU LARGE diperkenalkan pertama kali dalam JF3 Fashion Festival 2026. Kehadiran keduanya memberi contoh nyata mengenai hasil residensi, karena publik dapat melihat bentuk akhir dari riset, diskusi, dan pekerjaan bersama selama beberapa bulan.
Jalur Akselerasi Membawa Merek yang Lebih Siap
Selain inkubasi dan residensi, PINTU mempunyai program akselerasi bagi merek yang telah melewati tahap dasar. Jalur ini menyiapkan peserta untuk kembali menghadapi pembeli, media, serta pameran dagang internasional dengan posisi merek yang lebih jelas.
Materinya mencakup strategi ekspor, penetapan harga, aturan hukum, kegiatan internasional, komunikasi kepada pembeli, serta penyesuaian koleksi terhadap standar pasar global. Puncak program dijadwalkan melalui kepulangan peserta ke pameran dagang Paris pada 2026.
DENIMITUP menjadi salah satu merek Indonesia dalam jalur tersebut. Pada 2026, jenama denim itu bekerja sama dengan label Prancis TAREET untuk menghasilkan koleksi yang mempertemukan pendekatan kreatif kedua negara.
Kolaborasi tersebut ditampilkan di JF3 2026 dengan nama FAS DELMAN. Kehadirannya memperlihatkan perkembangan DENIMITUP dari peserta inkubasi menjadi merek yang mampu mengerjakan proyek bersama mitra luar negeri.
Lil Public juga memperoleh kesempatan tampil dalam pertunjukan tahunan École Duperré di Paris pada awal Juli 2026. Kesempatan tersebut memperkenalkan jenama Indonesia kepada lingkungan pendidikan dan industri mode Prancis.
École Duperré Membuka Jalur Pendidikan
Hubungan PINTU dengan Prancis diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman bersama École Duperré Paris pada Mei 2025. Penandatanganan disaksikan Menteri Kebudayaan Prancis Rachida Dati dalam kunjungannya ke Rumah Kudus di Bentara Budaya Jakarta.
Kesepakatan itu mencakup pertukaran pelajar, program residensi, serta pengembangan proyek bersama bagi desainer muda Indonesia dan Prancis.
Kerja sama pendidikan memberi jalur yang berbeda dari pameran. Pelajar dapat mengenal metode pengajaran, sistem studio, penelitian material, dan pengelolaan portofolio dari negara lain.
Pada saat yang sama, peserta Prancis memperoleh akses untuk mempelajari kerajinan Indonesia langsung dari komunitas pemilik keterampilan. Pertukaran tersebut membantu mencegah pemahaman yang terlalu dangkal terhadap batik, tenun, kulit, atau teknik tradisional lainnya.
Pembentukan Yayasan Memperkuat Struktur Program
Proses pembentukan Yayasan PINTU Incubator Indonesia menjadi salah satu perubahan penting pada tahun kelima. Selama ini PINTU berkembang melalui kerja bersama JF3, LAKON Indonesia, Kedutaan Besar Prancis, IFI, mentor, lembaga pendidikan, dan pelaku industri.
Yayasan diharapkan memberi struktur yang lebih jelas untuk pengelolaan program, kemitraan, pembiayaan, pemantauan alumni, serta penyusunan agenda tahunan.
Struktur tersebut juga diperlukan agar pendampingan tidak berhenti setelah peserta turun dari panggung. Merek muda masih membutuhkan bantuan ketika menerima pesanan, menyusun kontrak, meningkatkan kapasitas produksi, atau menghadapi pembeli asing.
PINTU telah membangun jalur yang bergerak dari inkubasi menuju akselerasi dan perdagangan internasional. Peserta dapat memulai dari penguatan identitas, melanjutkan ke penataan bisnis, lalu menghadapi pasar dengan koleksi, harga, serta sistem produksi yang lebih siap.
Hubungan mode Indonesia dan Prancis melalui PINTU karena itu tidak hanya terlihat dalam pemakaian kain atau peragaan busana. Jembatan tersebut dibentuk melalui pendidikan, pertemuan dengan perajin, pembentukan koleksi bersama, penguatan usaha, dan akses menuju jaringan profesional yang sebelumnya sulit dicapai oleh label muda.



Comment